Sistem Navigasi Pesawat Tanpa Awak Buatan Unila

Sistem Navigasi Pesawat Tanpa Awak Buatan Unila

Salah seorang Dosen Teknik Elektro Unila yang juga pemerhati dunia robotik, Muhamad Komarudin,M.T.,  berhasil mengembangkan inovasi baru untuk sistem pengendali udara dan navigasi pesawat tanpa awak. Temuannya dipakai oleh Chiba University of Japan yang berhasil merilis pesawat tanpa awak terbesar yang pernah Jepang ciptakan.

Pesawat berukuran panjang 4 meter dan rentang sayap mencapai 8 meter itu bernama Avionic and Telemetry System for CP-SAR UAV. Diluncurkan di Jepang Januari 2012 lalu oleh Center of Environment and Remote Sensing(CEReS) Chiba University of Japan dan mendapat apresiasi cukup tinggi di sana.

Meski diluncurkan di Jepang, pesawat berwarna merah itu mampu terbang karena olah pikir dari seorang dosen dan peneliti Unila. Muhamad Komarudin, M.T., memang sudah sejak lama berkutat meneliti teknologi sistem navigasi dan pengendalian udara pesawat tanpa awak. Hal ini yang mendukung terciptanya  pesawat tanpa awak terbesar di Jepang itu.

“Untuk konstruksi pesawatnya memang buatan Chiba University tetapi untuk sistem navigasi dan pengendalian dari darat itu milik Unila. Jadi jika dipatenkan dan dikomersilkan dua-duanya dapat,” ujar Komarudin.

Menurutnya, sejauh ini Teknik Elektro Unila memang telah mengembangkan teknologi robot udara ini pada awal tahun 2007. Teknologi dimulai dengan menggunakan layang-layang yang dapat mengambil foto udara.

“Semua sistem kita yang membangun, di mana pada layang-layang itu kita tempatkan kamera digital yang telah dimodifikasi. Selanjutnya dalam kondisi terbang dapat melakukan pengintaian dan pengambilan gambar dari udara,” urainya.

Hebatnya lagi, lanjut dia, apa yang tertangkap dalam lensa kamera di udara dapat dilihat oleh perangkat display yang ada di darat. Sistem pengendalian juga dilakukan dengan menggunakan pengendali dari bawah. “Kamera dapat melakukan aktivitas zoom in maupunzoom out,” kata pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat, 7 Desember 1968 ini.

Kendati demikian, layang-layang memiliki kelemahan terhadap ketersediaan udara. Maka pada akhir tahun 2007 diapliasikan ke dalam pesawat dengan sayap layang-layang. Pada tahun 2008 dimodifikasi kembali dengan helikopter remote controler.

“Nah, pada tahun inilah kita mendapat penghargaan dari Kementerian Komunikasi dan Informasi serta mendapatkan dana hibah strategis nasional untuk mengembangkan penelitian ini dengan bekerja sama dengan Chiba University,” jelasnya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>